Senin, 28 Maret 2011

TAXATION

PAJAK PENGHASILAN
-Pajak penghasilan pasal 25 adalah angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk setiap bulan dalam tahun pajak berjalan.
-Pajak yang dikenakan terhadap sekumpulan penghasilan yang diterima dalam kurun waktu 1 tahun.

2 hal dalam pajak penghasilan:
  1. Subjek pajak
Subjek pajak dalam negri (orang pribadi,badan,warisan yang belum terbagi)
Subjek pajak luar negri (orang pribadi,badan,BUT badan usaha tetap)
  1. Objek pajak
Adalah setiap tambahan ekonomis yang bisa digunakan untuk menambah kekayaan dan atau melakukan konsumsi.

Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis sebagai subjek pajak,penghasilan dpt dikelompokkan menjadi:
    • Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktik dokter,notaries,aktuaris,akuntan,pengacara.
    • Penghasilan dari usaha kegiatan
    • Penghasilan dari modal yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga dividen,royalty, sewa, keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha.

PPH pasal 21 pegawai tetap
PKP = penghasilan bruto-PTKP
PPH pasal 21= tariff pasal 17xPKP
Biaya-biaya yang boleh dikurangkan oleh pegawai tetap:
    • Biaya jabatan = 5% x penghasilan bruto max. 108000/bulan
    • Iuran pension

Biaya objek pajak dibagi menjadi 2 secara umum:
  1. Deviden,royalty,bunga,hadiah penghargaan
PPH pasal 23=15%xpenghasilan bruto
  1. Sewa dan Jasa
PPH pasal 23= 15%xpenghasilan netto
Perkiraan penghitungan netto:
-30%=jasa teknik,manajemen
-20%=penyelidikan dan keamanan, kurir,biro perjalanan,penerbangan
-10%=catering

Contoh soal:
Wawan bekerja sbgai manajer HRD di PT. Angkasa dengan penghasilan sebulan sbb:
  1. Gaji 3.750.000
  2. Tunjangan jabatan 10% dari gaji pokok
  3. Tunjangan keluarga 250.000
  4. Premi asuransi kesehatan 100.000 sebulan dengan ketentuan 75% dibayar pemberi kerja.
  5. Premi asuransi kecelakaan 150.000 dengan ketentuan 50% ditanggung wajib pajak.
  6. Menerima makan siang senilai 15000/ hari
  7. Menerima fasilitas mobil dinas senilai 65.000.000
  8. PT angkasa mengikuti program pensioun dengan premi 75.000 dimana 25% dibayar pemberi kerja
  9. Mengikuti program THT dengan premi 50.000 dimana 50% dibayar pemberi kerja
HITung PPH psal 21 setahun jika awan sudah memiliki 1 org anak.

Jwb:
  • Gaji pokok 3.750.000
  • Tunj jabatan 10%x3.750.000 375.000
  • Tunj keluarga 250.000
  • Premi kesehatan 75%x100.000 75.000
  • Premi asuransi kecelakaan 75.000 +
4.525.000

Biaya-biaya
-Jabatan =50%x4.525.000
=226.200 226.000
-Iuran pension 75%x75000 56.250
-Iuran THT 50%x50.000 25.000+
307.250

4.525.000-307.250=4.217.750








Sabtu, 19 Maret 2011

Jalan - jalan





CERPEN

Genk Qt bukan PUNK
“Arghhhh... kaos kaki gue mana sih??” teriak Niki dari kamarnya sambil terus memberantakan seisi lemari bajunya. Niki terlihat gerang , karna tak sepasang kaoskaki pun ditemukannya. Niki memakai kaoskaki hari kamis kemarin, iapun keluar dari kamar lalu menuju ke meja makan. “Niki, nanti pulangnya jangan sore-sore. Kamu harus jaga rumah, mama ada keperluan.” Mamanya mulai berceramah. “iya!!!tapi ma, Niki boleh nonton konsernya The Brandals ngga??ntar malem.” Niki menyeruput kopi capucino kesukaannya. “Duh... mama nggak ngijinin kamu nonton apa tu??, The ban dalam, nggak pokoknya nggak boleh.” Mamanya tetap bersikeras. “The Brandals maaa...” Niki mencoba memberitahu nama band kesukaannya dengan benar. “ya...itulah, kamu tu anak cewek nonton konser band rock yang nyanyinya hanya teriak-teriak mirip sama teriakin maling.” Mamanya tak mau kalah. “ah... mama ngga asyik nih,L” Nikipun beranjak dari tempat duduknya. Lalu menuju ke garasi, mengambil mobil hyundainya.
Terlihat mobil Niki terparkir di depan rumah Zhe dan Oliv. Tin...tin..terdengar suara mobil klakson Niki. Zhe keluar dari balik pintu rumah diikuti Oliv dari arah belakang. Merekapun menaiki mobil Niki, Oliv menemani Niki didepan. “kalian ngapain aja sih??gue nunggu ampe bangkotan. Selalu deh kalo gue jemput loe-loe mesti lama, ato ngga balik lagi ada yang ketinggalan lah” Niki mulai berkomentar. “lagian kenapa kalian ngga nyoba naik mobil sendiri, tuh mobil didepan garasi dianggurin mulu” Niki melanjutkan komentarnya. “Sory deh Nik, kita emang lama. Kita berdua kan ngontrak rumah, jadi ngerjain apa-apa mesti sendiri. Soal mobil, elo kan tau SIM gue ngga jelas, mana bokap gue belom bikinin. Gue minta pembantu aja belom dikirim sampe sekarang” Oliv mencoba menjelaskan. “pembantu??kan  udah ada, tuh yang duduk di belakang, yang lagi makan roti bakar” Niki melirik Zhe yang sedang asyik menyilakan kedua kakinya di jok kursi mobil sambil makan roti bakar. “sialan loe!!gue kan mirip sama Julie Estel,masa?? Dibilang pembantu” Zhe membela diri. “Julie Estel??Julie ketel kalee...haha” Nikipun tertawa, diikuti oliv tertawa.
Arzheta Melanie,biasa dipanggil Zhe. Hobynya baca komik ato ngga lebih suka nongkrong di depan tv kalo filmnya harry potter. Mungkin Radcllife bakalan seneng ada cewek cute yang naksir banget ama filmnya. Lain lagi Olive Careshia, dibalik namanya yang keliatan banget kalo ceweknya lembut en tenang. Padahal hobinya ngejahilin orang, ato ngga langganan rame di kelas. Sebenernya ada harapan terbesar yang belom ia dapetin. Ya, nunggu seorang popeye yang bakalan ada dan selalu ngelindungin dia bak seorang putri. Kalo Niki jangan ditanya lagi deh. Nama lengkapnya Nikita Ardiana. Cewek yang satu ini ngga kalah bandel ama kedua sahabatnya. Niki berjiwa pemberontak dan ngga bisa diatur tapi sebenernya dia anak yang baik. Mereka bertiga sekolah di Sma 8. mereka bersahabat sejak kelas satu SMA, oliv memang tak sekelas bersama Zhe dan Niki. Tapi mereka tetap kompak dan selalu bersama.
Sepulang sekolah...
“Zhe, elo tungguin gue di parkiran ya. Gue mau ke ruang bp. pak Satya manggil gue.” Niki berlari dan menuju keruang bp. Nikipun mengetuk pintu , tapi pak Satya tak muncul dari balik pintu. Niki menunggu sambil duduk di koridor depan ruang bp. “duh...mana sih pak satya??” Niki mengeluh sambil terus melirik jam tangannya.
Tak lama kemudian seorang cowok jangkung berlari melewati ruang bp. Cowok itu bernama Dira anak kelas 2-3 teman sekelas Oliv. “kok belom pulang Nik?” tanya Dira sambil menghentikan langkah untuk menengok Niki sekilas. “belom, gue masih nunggu pak Satya??” Dira melangkah menghampiri cewek maniez yang lagi duduk di koridor depan ruang bp. “lho, pak Satya lagi ngadain penyuluhan tentang narkoba di kelas 3” Dira memberitahukan sesuatu. “aduh...ngapain juga gue nunggu disini” Niki terlihat kesal. “ya udah Nik, besok aja nemuin pak Satyanya. Gue mau beli gabus en lem buat mading besok.” Dira melangkah menjauhi Niki. Niki berlari kecil menghampiri Dira “eh...tunggu Dir, loe bareng aja sama gue. panas-panas gini elo mau jalan?”. “oke deh!!” setuju Dira.
Setelah mengantar Dira ke toko bangunan, eh... ke toko alat tulis. Niki menghentikan mobilnya di kawasan perumahan Permai, rumah Zhe en Oliv. Zhe dan Oliv masuk lebih dulu ke dalam rumah. Niki sedang asyik mematikan mp3nya. Tak lama kemudian Niki sudah dengan santai duduk di sofa ruang tamu. Zhe terlihat dari arah dapur membawa es capucino kesukaan Niki. “Nik, elo udah bilang ke nyokap loe. Kalo loe mau ikutan sama kita ngontrak di rumah ini, kan enak bertiga” Zhe memulai pembicaraan. “boro-boro dibolehin ngontrak rumah sama kalian. Gue mau nonton konsernya The Brandals ntar malem aja ngga boleh, nyokap gue kan ngga suka ma band rock macem itu. “ Niki menanggapi dengan kesal. “ya... iyalah nyokap loe ngga ngebolehin, kalo loe nonton karawitan pasti boleh...hahaha” balas Zhe sambil bercanda. “sialan loe!!!tapi ntar malem gue pengen keluar, gue boring di rumah” Niki membanting kepalanya kesofa. “gimana kalo kita ke Cape Cupid, cafe baru tuh...” sahut Oliv dari balik pintu kamar. “cape Cupid??” kata Zhe dan Niki bersamaan. “iya, cape Cupid baru buka 3 hari yang lalau. Kata anak-anak sih tempatnya asyik en dijamin murah deh” Oliv menyebelahi Niki. “oke deh, kita coba kesana. Elo nanti kerumah gue aja, biar nyokap gue percaya kalo gue pergi sama kalian” . Zhe dan Oliv menganggukan kepala tanda setuju.
Malamnya.
Terlihat Zhe memakai baju cutenya yang berwarna pink. Dan Oliv duduk santai dengan jins selututnya. “Hei...kalian udah nunggu lama ya?, kita berangkat aja yuk” Sapa Niki tiba-tiba.
“Zhe ,elo yang nyetir aja ya,” kata Niki sambil melempar kunci mobil kearah Zhe. Merekapun berangkat menuju ke Cape Cupid. “ntar kalo harga makanan en minuman disana mahal, mending kita ngga usah beli aja” sambil menyetir Zhe membuka pembicaraan. “trus, kita ngapain dong disana??Oliv sih, ngajak nongkrong kesana. Mending ditempat biasa aja, di kios bakso depan stadion murah kan.” Balas Niki yang sedang mendengarkan mp3 di kursi belakang. “duh,,, dijamin murah deh. Cari suasana baru dong, masa di kios bakso melulu.” Oliv membela diri
Di Cape Cupid
“kita duduk di dekat jendela yang sebelah sana aja.” Kata Oliv sambil menunjuk tempat duduk. Zhe dan Niki menuju kearah tempat duduk yang ditunjuk oleh Oliv. “mau pesan apa?” tanya salah seorang pelayan kepada mereka. “lemon tea aja deh mbak”  jawab Zhe. “kita sama deh mbak!!” jawab Niki agak kesal. “gila loe liv, katanya murah-murah!!! lemon tea aja harganya dua puluh lima ribu, itupun yang paling murah!!” Niki terlihat kesal. “iya, gue bawa duit Cuma tiga puluh ribu. Kirain dengan duit segitu gue bisa makan roti bakar. Eh... roti bakarnya harganya diatas tiga puluh ribu. Kalo kita ke kios bakso,gue bisa dapet 10 mangkok bakso!!!” Zhe tak mau kalah memarahi Oliv. Para tamu-tamu yang lainpun melihati mereka yang sibuk dengan masalah uang. Ada juga yang memelototi mereka. Dan ada yang....  ”kenapa,,, kalian ngga mampu buat beli makanan disini?” Muncul suara di belakang mereka. “pakaian kalian aja ngga keliatan mewah banget, mirip sama anak berandalan. Kok bisa-bisanya masuk kesini!!!” lanjutnya.   “Devi,,!!!!”  kaget Niki. “loe jangan macem-macem deh, kita mampu bayar kok.” Sahut Zhe tiba-tiba. Devi adalah kakak kelas mereka. Devi tak pernah suka dengan tingkah mereka bertiga. Apalagi Devi pernah berantem dengan mereka.
“udah deh kalian pulang aja. Daripada di Cape Cupid ada preman!!!ya ngga re,” Devi terlihat meledek. Tere hanya bisa manggut-manggut sambil memasang tampang sok. Tiba-tiba Zhe mendorong badan Devi hingga tersungkur ke lantai, Niki juga ikut-ikutan. Tere yang saat itu melihat temannya jatuh, iapun membantu Devi. “sialan loe ya!!!” Devi menghajar wajah cute Zhe. Zhe terjatuh hingga mengenai kursi. Niki menjadi semakin gerang. Niki dan Oliv mengeroyok Devi.
Semua orang ada yang berteriak histeris satpampun tak bisa menghentikan keonaran itu. Niki dan Oliv sibuk berkelahi, dan Zhe terus memegangi pipinya yang dipenuhi darah. Tiba-tiba Tere memasukkan sesuatu kedalam tas Oliv yang tergeletak dimeja. Beberapa lama kemudian pak Satpam berhasil menghentikan perkelahian itu. “kalian semua ikut saya ke kantor!!!!!” kata pak Satpam itu sambil marah.
“pak satpam mereka yang mulai duluan” kata Devi sambil duduk di pos satpam. “maaf non, tapi saya hanya menjalankan tugas. Bahwa cafe ini baru di buka 3 hari yang lalu. Dan atas perintah ayah non. Saya harus menjalankan keamanan dan ketertiban di Cafe ini.” Jelas pak Satpam terlihat sungkan. “iya saya ngerti, tapi mereka yang mulai duluan. Apa bapak ngga denger banyak orang-orang di cafe tadi, menyalahkan mereka. Saya juga memberitahukan sesuatu pak, salah satu dari mereka ada yang membawa obat-obatan terlarang, saya liat dengan mata saya sendiri pak” Devi berkata penuh dengan kebohongan. “obat terlarang??siapa yang bawa??ngga pak, Devi tukang boong pak!!!” Niki membela diri. Pak Satpampun memeriksa tas Oliv, dan hanya dialah yang membawa tas. “hah...” Oliv melotot kaget. Sebuah plastik berisikan tepung berwarna putih ditemukan dari tasnya,dan pasti itu bukan tepung terigu tapi.......N “pak, itu bukan punya saya. Sumpah pak” Oliv terlihat panik dan ketakutan. Pak Satpampun menuju kearah dalam, lalu menelepon ke kantor polisi. Devi dan Terepun pergi “met bersenang-senang ya” ledek Devi dengan tersenyum sinis. “brengsek loe!!!” Oliv terlihat marah.
“Liv, kok bisa barang laknat itu ada ditas loe??” Niki bertanya sambil terus menggigit jarinya karena panik. “gue ngga tau Nik, itu bukan barang gue. gue dapet darimana duit buat beli barang gituan” Oliv memelas pasrah. “uh tau gitu gue ngga kesini??kita bikin ribut di cafenya Devi, musuh kita lagi!!!gue ngga mau berurusan sama polisi, ini semua gara-gara loe Liv. Ngajak kita kesini, kalo kita ngga kesini mungkin kejadian ini ngga bakalan terjadi” Zhe menendang kursi yang tepat berada di depannya. “loe nyalahin gue, sialan loe!!!kalo loe ngga mesen minuman.Devi en Tere ngga bakalan nyamperin kita, dan kekacauan ini ngga bakal terjadi. Loe yang bilang sendiri di mobil, kalo harga menunya mahal kita ngga usah beli. Elo yang salah...,gue mana tau juga,kalo ini cafenya Devi.” Oliv balik menyalahkan Zhe. Zhe terlihat makin marah “eh...loe yang bilang juga kalo harga menunya di sini murah-murah, eh ternyata apa??elo boong” Zhe makin berteriak histeris. “gue mana tau, elo jangan salahin gue dong. Brengsek loe!!!!!!” Oliv tak mengontrol kata-katanya. “Udah deh.... ini bukan salah siapa-siapa. Sekarang kita selesain bareng-bareng masalah ini. Masalah Oliv, masalah kita juga Zhe. Kita harus cari cara kalo barang haram itu emang bener-bener bukan punya Oliv. Gue yakin Devi en Tere jebak kita, gue juga baru tau ni Cafe punya Devi. Posisi kita semakin sulit,Devi pasti bakalan menang. Dan kita ngga boleh biarin Devi menang, elo jangan bertengkar mulu dong. Kita bicarain bareng-bareng gimana caranya kita ngebuktiin kalo kita bener-bener ngga bersalah.” Niki menengahi perdebatan antara Zhe dan Oliv.
Di Sekolah.
Zhe, Oliv dan Niki terlihat sedang menduduki kursi panjang di ruang bp. Terlihat pak Satya mengintrogasi mereka. Tak beberapa lama kemudian orang tua mereka datang dan masuk ke ruang bp.
2 jam kemudian mereka keluar dari ruang bp. Niki dan Zhe menuju ke kelas. “ada bandar korma neh..., eh bandar narkoba deng” ledek Angga teman mereka. “kurang ajar loe” Zhe tak bisa menahan emosinya. “gue males masuk kelas, gue mau ke kamar mandi dulu Nik” Zhe memutar balik langkahnya dan menuju ke kamar mandi. Niki tetap menenteng tas ranselnya ditangan sebelah kiri, lalu duduk diserambi kelas. Banyak anak-anak melihati Niki yang sedang duduk sendirian diserambi, mereka seperti melihat orang pengecut yang ngga bisa berbuat apa-apa. “uh...ngapain sih pak Satya nyuruh kita nunggu di kelas, gue kan malu diliatin sama anak-anak!!mending di ceramahin di kantor bp aja deh. Uhhh...sebel deh gue, udah dimarahi ama ortu,bayar ganti rugi yang sebegitu gedenya, meskipun patungan ma ortunya Zhe en Oliv ngga bakalan cukup. Mending bayar ganti rugi daripada harus dipenjara...hii..ngeri deh. Pake acara diskors dari sekolah, tapi mending daripada dikeluarin dari sekolah,tapi yang lebih parah gue ngga bisa nyetir mobil sendiri kalo berangkat sekolah. Sekarang gue naik angkot...hu..hu.”  Niki mengoceh dalam hatinya sambil manyun-manyun ngga jelas. “Nik, pak Satya sama wali kelas kita udah dateng masuk kelas yuuk” Zhe tiba-tiba muncul.
Dirumah Zhe dan Oliv.
“erghhhh..... gue benci sama Devi,gara-gara dia kita harus diskors ditambah bayar ganti rugi lagi. Uh...kita udah jelek neh, dimata temen-temen” Zhe melemparkan tubuhnya ketempat tidur. Disusul Niki, “iya,belom lagi nyokap gue marah besar. Gue kerumah kalian aja, ngumpet-ngumpet, kan gue lagi dihukum ngga boleh keluar rumah.”Niki memelas. “sory ya guys!!!ini semua salah gue, seandainya gue ngga ngajak kalian ke cafenya Mrs. Devil. Mungkin semua ini ngga bakalan terjadi, gue nyesel. ” Oliv duduk termangu sedih menyesali perbuatannya. Niki dan Zhe saling berpandangan, melihat tingkah sahabatnya itu yang tiba-tiba minta maaf ngga jelas. “Liv, ini salah kita semua. Ya, kita juga harus perbaiki semuanya” Niki menghampiri Oliv lalu duduk di sebelahnya. Zhe bangun dari tempat tidur dan bersandar di bahu Oliv, “iya Liv,kita ngga boleh hanya terus merasa bersalah. Kita perbaiki semuanya menurut gue belom terlambat kok. Gue juga minta maaf udah nyalahin loe atas kejadian ini, gue tau kita semua menyesal, dan kita juga tau kalo kita ngga salah. Bener kata Niki kita harus perbaiki semuanya,mumpung masih banyak waktu. Dan kita ngga usah takut, kita kan emang bener-bener ngga salah.” Zhe mencoba menenangkan Oliv. “makasih guys, gue sayang sama kalian. Gue ngga lagi ngerasa harus sendirian untuk nyelesain masalah ini, tapi berkat ada loe-loe pada, gue jadi tambah semangat. Gue sayang sama kalian C” Oliv memeluk kedua sahabatnya itu, merekapun menangis. Mereka yakin dengan bersama, mereka pasti bisa!!!.
Senin pagi sekitar pukul 06.36, Niki keluar dari angkot. “akhirnya masa skors sudah berakhir,semoga gue bisa tenang kalo-kalo aja ada yang ngeledek gue. kayaknya temen-temen bakalan ngeliat gue mirip ama pecundang,,,uh...gue malu neh. Pak satpam aja ngeliatin gue sambil melotot.”  Niki melamun dalam hatinya. Nikipun berjalan menuju ke kelas 2-1. “pagi Nik,” sapa Dira sambil tersenyum kecil. Niki membalasnya dengan senyum.
Sepulang sekolah.
“liv, gimana loe tadi di kelas?” tanya Zhe sambil terus bercermin di wastafel.  “temen-temen kayaknya pada takut ma gue. banyak juga sih yang ngeledekin gue. apalagi si Angga anak kepala sekolah tuh, dia ngeledekin kita anak punk. Gue sebel banget. Untung ngga gue bogem tuh perutnya yang buncit.” Oliv bersandar dipintu kamar mandi. “hah??Angga!!!, yang pernah loe ajakin berantem,itu kan?? trus dia ngadu sama bokapnya. Kurang ajar banget tuh anak. Udah gendut,belagu lagi. Gue tadi di kelas juga banyak banget yang musuhin. Tapi tadi pagi gue lewat kelas loe liv, Dira senyum kegue. Kayaknya Dira ngga pilih kasih deh sama kita.” Niki tersenyum sambil terus mencuci tangannya yang sama sekali ngga kotor. “Dira??dia anak basket kan,setau gue Dira tu emang dasarnya baik kok, dan ngga milih-milih temen. Dia kan sekelas ma gue Nik,” Oliv menceritakan sosok Dira. “o... mungkin aja gitu.” Niki tampak tak yakin.
Sudah 2 minggu, Niki Zhe dan Oliv masuk sekolah saat terakhir di skors. Mereka semakin akrab dengan Dira dan juga dengan teman-teman Dira setim basket. Tapi tetap saja teman-teman yang lain mengucilkan mereka. Apalagi Devi dan Tere membuat gosip yang enggak-enggak tentang mereka.
Niki menemani Dira keruangan OSIS untuk mengerjakan mading. Niki duduk dikursi sambil membaca majalah. Dira sedang asyik memotong-motong karton, untuk ditempel di papan mading. “perlu dibantu Dir??” Niki menghampiri Dira. “emmm...elo bantu nempel karton ini aja” Dira memberi petunjuk kearah Niki. Niki dengan sigap mengambil lem lalu mulai menempelkan kartonnya. “anak-anak pengurus mading yang lainnya kemana Dir?” tanya Niki. “mereka sibuk,ada yang wawancara,ada yang beli bahan, ya ngga ada yang bantuin gue. tapi sekarang ada loe yang bantu gue. hehehe” jawab Dira cengengesan. “sebenernya kami saling kerjasama, kalo udah ada kerjasma en semangat ,pekerjaan kita jadi lebih cepat en lebih mudah” lanjut Dira. Niki manggut-manggut mendengar ucapan Dira. “o...ya,loe kok nyantai banget ya kalo dikatain sama temen-temen.” Dira tiba-tiba bertanya. “gue dikata-katain?, emang dikatain apa Dir??” Niki menatap kearah Dira. “ya...dikatain macem-macem. apalagi Devi, kakak kelas kita nempelin selebaran di mading isinya ya, jelek-jelekin elo Zhe en Oliv “ Dira bercerita. “o...kalo itu ngga bener ngapain diributin.” Jawab enteng Niki. Dirapun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum...
Kamis pagi...
Terlihat Zhe dan Oliv datang lalu berjalan menuju ke kelas. “ya...ampun gue lupa bawa pr bhs inggris!!!!” teriak Zhe panik. “elo gimana sih?, tadi malem ngga mau di cek dulu.” Oliv berkomentar. “ya, gue lupa Liv, elo masuk kelas aja duluan. Gue mau minjem prnya Beni aja, tuh dia lagi maen basket” Zhe menunjuk kearah Beni.
Zhe berlari terburu-buru lalu muncul ditengah lapangan, dan anak-anak yang bermain basket sangat terganggu oleh keberadaan Zhe yang muncul tiba-tiba. “sory, gue ganggu. Ben, gue pinjem pr bhs inggris loe dong. Pr gue ketinggalan.” Zhe merengek meminta. “uhh...loe ganggu aja Zhe, ambil aja ditas. Tuh ditas yang merah deket ring basket” Beni terlihat marah. Dengan sigap Zhe berlari lalu mengambil pr Beni dan mulai menconteknya. Zhe menyalin pr sambil duduk di kursi dekat lapangan basket.
Tiba-tiba bruk, sebuah bola basket mendarat di kepala Zhe. Zhepun terjatuh dari kursi. “au........” teriaknya sambil memegangi kepalanya. Seorang kakak kelasnya yang bernama Andika menghampirinya. “sory...Zhe,,, elo ngga papa kan?” tanya Andika gugup. Zhe bangun dari jatuhnya dan terus mengusap-usap keningnya. “Zhe??darimana loe tau nama gue. gue aja ngga tau nama loe. Udah ngelempar kepala gue pake bola basket yang gedenya mirip sama semangka lagi, sakit tau.” Marah Zhe dalam hati. “halouww!!Zhe elo ngga papa kan?sory tadi gue ngga sengaja” Andika mencoba meminta maaf. “ih....cowok nyebelin. Awas loe ya, meskipun loe kakak kelas gue, gue ngga bakalan maafin loe. Gue kan malu, apalagi sampe dilihat Dira en Beni. Uh...sialan loe!!!” Zhe terus marah dalam hatinya.  “ngga papa kok, kak. Lain kali bedain ya kepala orang sama ring basket M ” Zhe akhirnya menjawab. Zhepun membawa tasnya dan buku pr bhs. Inggrisnya lalu menuju kelas. Andika hanya bisa memandangi Zhe yang pergi sambil manyun-manyun.
Sepulang sekolah.
“kurang ajar ngga sih tuh kakak kelas!!!gue kan malu diliat sama anak-anak,pake acara jatuh dari kursi lagi. Uh....” Zhe terus mengingat kejadian tadi pagi. “Zhe....loe udah cerita berapa kali sih??gue bosen neh ngedengerinnya.” Niki mengomentari cerita Zhe. “iya, loe kan udah cerita pas istirahat tadi. Masa, sekarang mau diceritain lagi” sahut Oliv tiba-tiba. Pembicaraan mereka terhenti, setelah melihat sesosok manusia yang sedang berdiri didekat pintu gerbang. Manusia itu adalah Devi, kakak kelas mereka yang suka cari gara-gara. Devi terlihat sinis melihat Niki,oliv dan Zhe. Lirikan mata yang tajampun dilemparkan kearah mereka bertiga. “kita ke kios bakso dulu ya?, gue laper neh” Niki memegangi perutnya. “oke deh” Olivpun setuju.
“tadi ngapain ya, Devi ngelirik kita?apa dia mau minta maaf soal kejadian di cafe. Nama baik kita belum bener-bener bersih di depan temen-temen termasuk kakak kelas kita. Paling Cuma Dira cs yang nganggep kita bener-bener emang anak baik-baik.” Niki mengomentari sikap Devi sambil terus meniupi kuah bakso yang masih panas. “iya, gue dikelas masih dikata-katain sama anak-anak. Guru-guru juga kayaknya ngga suka sama gue, buku pr matematika gue aja masih di bu Fina, masih belom dibalikin.” Oliv menceritakan kekesalannya. “iya ya, padahal kita udah masuk 2 minggu lebih, kenapa mereka ngga mau nerima kita. Kita kan ngga bersalah??gue pengen pindah sekolah aja deh, tapi kemana ya?” Zhe mulai ikut-ikutan berkomentar. Oliv dan Nikipun tertawa, “hahaah...mau pindah??emang ada sekolahan yang mau nerima murid lemot kayak loe” canda Niki. “sialan loe” Zhepun tersenyum sinis.
Malamnya...
Terlihat Oliv dan Zhe sedang asyik main ps di kamar Niki. “nih, cocacola en airputih buat kalian.” Niki meletakkan 2 gelas minuman di meja dekat tv. “guys!!!loe-loe pada mau ikutan olimpiade ngga??” Niki bertanya sambil sibuk mencari saluran radio. “olimpiade??, olimpiade apaan Nik?” Zhe menghentikan main psnya, lalu menghampiri Niki. “olimpiade matematika!!!” jawab Niki lalu membenahi posisi duduknya. Oliv yang sedang meneguk segelas air putih tiba-tiba tersedak, “apa??olimpiade matematika....” Oliv kaget sambil melotot seram. “iya olimpiade matematika. Mau ngga??kita bakalan di seleksi dulu baru diikutin olimpiade.gue dapet formulirnya dari Dira. ” Niki menjelaskan maksudnya. “hah??ya...ampun Nik, loe kan tau gue ngga bisa matematika apalagi harus ikut olimpiade. Gue mungkin Cuma bisa perkalian, pembagian doang. Loe kan tau ulangan gue mesti dapet berapa. Kalo ngga 5 ya 6 kalo ngga 5 sama 6 ya 4.” Oliv mengomentari ide Niki sambil manyun-manyun. “iya gue tau. Ngga elo aja, yang ngga bisa matematika gue juga!!! dan gue yakin Zhe juga sama. Tapi loe inget ngga pas waktu gue sama Zhe belajar kelompok matematika di sekolah, trus besoknya ulangan. Nah..... akhirnya kita dapet nilai bagus. Kalo kita belajar kita pasti bisa deh Liv.”Niki terus mempertahankan idenya. “bener juga sih kata loe Nik,” Zhe mulai mendukung Niki. “nah....masalahnya, kita harus punya guru neh. Buat ngajarin kita matematika. Gimana kalo kita minta bu Fina buat ngajarin kita??” Niki terus memutar-mutar tombol tuning di radionya. “hah??ngga mungkin mau, loe kan tau gimana sikap bu Fina ama kita. gue Ogah ah...” Oliv memasang tampang menyerahnya lagi.
Jum’at pagi, terlihat Niki dan Dira sedang membicarakan sesuatu di koridor depan kelas Dira. “kayaknya, Oliv bener-bener ngga mau deh Dir, ikutan olimpiade itu. Gue jadi ragu neh” Niki menunduk. “oliv??emangnya kenapa dia ngga mau ikutan??”, Dira bertanya heran. “ya, dia takut aja ntar kita ngga lolos seleksi.” Niki menjawab dengan nada bimbang. “o...biar gue selesain deh, masalah Oliv.” Dira mencoba membantu Niki. “hah??beneran??, terserah elo deh.” Niki mulai pasrah. “o...ya Nik, elo tau Andika kan???kakak kelas kita.  Kelas 3-4” tanya Dira tiba-tiba. “emmm...tau!!!yang ngelempar Zhe pake bola basket kan??emang kenapa Dir??” Niki membenahi posisi duduknya. “keliatannya dia suka deh ama Zhe, tiap hari Andika tanya kegue mulu tentang Zhe. Nomor hapenya lah, tanggal lahir, alamatnya dimana. Sampe bosen deh gue ngedengerinnya.” Cerita Dira.  “???????”.....
Istirahat....
Niki dan Zhe keluar dari kelas,lalu melewati kelas 2-3 “hai bandar korma...ngga ngedarin korma lagi”, sahut Angga dari balik pintu. “kurang ajar loe!!!!” teriak Zhe dengan nada marah. “udah Zhe, ngga usah di ladenin” Niki menahan kemarahan Zhe. Zhe melangkah kearah depan, dan bergegas ke kantin. Iapun duduk di atas meja kantin. Nikipun menyusul duduk di kursi lalu mulai mengutak-atik hapenya. “Angga tu sarap ya,, untung aja dia anak kepala sekolah. Coba kalo bukan, udah gue sikat tuh karung beras.” Zhe terlihat masih kesal. “karung beras loe ladenin!!!” Niki menahan tawanya. 2 menit kemudian Oliv datang sambil manyun-manyun dan menyebelahi Niki. “kenapa loe Liv, di cuekin lagi sama bu Fina??” tanya Niki sambil memasukkan hapenya ke dalam saku. “gue benci aja ama anak-anak, mereka tuh ngga pernah capek ya ngeledekin kita. Apalagi si Angga dia doyan banget deh, ngatain gue. ngga bisa diem tuh karung beras. Gue udah sabar, tapi kayaknya kali ini gue ngga bisa sabar deh. Nik, bener deh kata loe emang kita harus ikut olimpiade matematika. Kita buktiin kalo emang kita tu, bukan geng punk yang suka cari gara-gara.” Oliv memuntahkan kekesalannya. “udah Liv, mereka ngga tau apa yang sebenarnya terjadi, mereka bener-bener ngga tau siapa yang salah ataupun yang bener.” Niki mencoba menghibur Oliv. “iya Nik, gue setuju juga deh kalau kita ikutan olimpiade matematika. Gue pengen aja ngebuktiin ke mereka,kalo kita emang buat orang risih tapi otak kita berisi.” Zhepun turun dari atas meja lalu duduk di sebelah Oliv. “betul banget tuh!!!tumben otak loe jalan” setuju Oliv. “sialan loe!!!” Zhe tersenyum sinis.
Di rumah Niki.
“x² +10x+21, binggung neh.” Oliv menggaruk-garuk kepalanya. “bisa ngga liv??” Niki bertanya sambil melirik ke buku tugas Oliv. “hasilnya (x+7)(x+3) ya??” sahut Oliv keras. “ya, jawaban loe sama kok, ama punya gue.” Niki tersenyum iklas.
“duh, kita udah 2 jam neh belajar. Gue ngertinya Cuma dikit, yang ngga tau kok banyak ya. Pusing neh” Zhe mengeluh sambil menidurkan kepalanya di meja. “sama Zhe, gue juga!!!” Niki tak kalah mengeluhnya. “kalo gini terus gimana kita bisa maju ke olimpiade matematika. Kayaknya kita butuh guru deh buat ngajarin kita.” Oliv menutup buku matematikanya sambil terus menggoyang-goyangkan bolpennya.
Paginya...
Niki dan Zhe sudah sibuk menghafal rumus-rumus matematika. “hay, guys gue udah nemuin guru buat ngajarin kita matematika.” Kata Oliv sambil berjalan menuju kearah bangku Niki. “Guru??siapa??” sahut Niki dan Zhe bersamaan. “Dira!!!!!” jawab Oliv. “ha??Dira??emang dia mau ngajarin kita matematika.” Tanya Niki ragu. “pasti mau dong, kan ada loe Nik,” canda Oliv sambil duduk diatas meja Niki. “apa hubungannya??” Niki mengerenyutkan kening. “cieeeee, bukannya elo seneng kalo Dira yang ngajarin kita matematika..” lanjut Zhe menggoda. Wajah Nikipun memerah sambil tersenyum senang.J
Sepulang sekolah.
Zhe dan Oliv terlihat sedang asyik mengerjakan soal-soal matematika, ditaman belakang rumah Niki. “Nik, Dira tuh!!!” kata Oliv menunjuk kearah Dira yang sedang berdiri di dekat pintu. “hah??,,masuk aja Dir,.” Sahut Niki sambil menyeruput capucino kesukaannya. Dirapun menghampiri Niki, “kita mulai aja deh, belajarnya” kata Dira bak seorang guru. “siap pak guru.” Sahut Niki sambil tersenyum. Sudah 2 jam lebih mereka belajar untuk ikut olimpiade matematika. Zhe dan oliv terlihat capek sambil tiduran di kursi dekat taman. “gue pulang dulu Nik,” kata Dira tiba-tiba. “hah??iya, gue anter sampe depan ya.” Balas Niki seadanya. Mereka berduapun berjalan sampai ke pintu gerbang. “loe naek sepeda motor Dir??kalo berangkat sekolah kok naek angkot??” tanya Niki sambil membuka pintu gerbang rumahnya. “iya,, tadi siang baru gue ambil dari bengkel.” Jawab Dira sambil menaiki sepeda motornya. “ati-ati ya Dir,” Niki melambaikan tangan kearah Dira.
Senin pagi.
Zhe terlihat duduk termangu di depan koridor, “hai Zhe!!!!” sapa Andika padanya. Zhe melipat-lipat keningnya dan terus memandangi Andika dengan heran. Andikapun duduk menyebelahi Zhe, “jaim juga loe...” sindir Andika sambil melirik Zhe. “hah??jaim?” Zhe mulai berkata. “iya...dari gue ngelempar kepala loe pake basket, trus stiap hari gue negur loe. Elo-nya malah cuek.” Andika mulai kesal. “wah...gawat neh cowok,jangan-jangan dia ada maksud jahat pake acara deketin gue.” Zhe curiga dalam hatinya. “siapa elo?,” Zhe mulai bertanya ketus. “gue??! kenalin, gue Tyo Andika Kurniawan. Kelas 3-4 ips.” Jawab Andika dengan lantang. “o....” Zhe berkomentar seadanya. “O??!! Bulet dong??” tanya Andika sambil menatap kearah Zhe. “apanya?” tanya Zhe penasaran. “ya...O-nya. Masa lubang hidung elo. Hehe” Andika mulai bercanda. Zhepun tertawa sambil memukul lengan Andika berulang kali. “sialan loe!!!” kata Zhe menahan tawa.
Sepulang sekolah
“hayo...Zhe tadi pagi ngapain sama kak Dika berduaan di koridor??” sindir Oliv sambil menuangkan kecap kearah baksonya. “hah??ngga ngapain-ngapain kok, Cuma ngobrol aja”, balas Zhe panik. “lho... katanya ngga mau ngobrol sama kak Dika,gara-gara dilempar bola basket.” Niki ikut-ikutan menyindir Zhe sambil meniupi kuah baksonya. “duh...kalian aja belom kenal dia, dia ternyata asik loh orangnya...J” Zhe mulai memuji Andika. “cie....cie...” sahut Oliv dan Niki sambil tersenyum.
Sudah 1 minggu berlalu.
Olimpiade matematika semakin dekat. Niki, Zhe dan Oliv terus berjuang belajar dan terus belajar. Niki semakin akrab dengan Dira, Dira senantiasa membantu Niki saat sedang kesusahan. Zhe sudah mulai bertegur sapa dengan Andika, dan Oliv tak jadi murid yang paling dinomersekiankan oleh bu Fina, karena Oliv sering mendapat nilai A saat ulangan matematika. Anggapun keliatan sudah tidak sering meledek Oliv saat di kelas.
Hari rabu sekitar pukul 11.00
Banyak anak-anak berkumpul didepan mading. Di mading tertempel selembar kertas peserta yang lolos seleksi Olimpiade matematika. Niki, Zhe dan Oliv ikut-ikutan berkumpul didepan mading, mereka saling dorong untuk melihat nama mereka. “ha...??kita lolos guys!!!” teriak Zhe senang. Oliv dan Niki yang masih mencari nama mereka, tiba-tiba keluar dari gerombolan anak-anak, lalu mereka menghampiri Zhe. “Zhe!!! bener kita lolos seleksi??” tanya Niki bingung. “iya...kita lolos seleksi,dan elo Liv, elo dapet nilai tertinggi saat ngerjain soal-soal” jawab Zhe senang. “Selamet ya Liv,” Niki memberi ucapan selamat. “thanks guys.” Oliv memeluk kedua sahabatnya.Merekapun terlihat senang.
Dirumah Niki.
“wah, ngga nyangka loh. Gue dapet nilai tertinggi saat ujian seleksi matematika??” Oliv menidurkan kepalanya di meja belajar Niki. “elo berarti udah kerja keras, nah sekarang kita persiapan buat Olimpiadenya. 2 hari lagi loh!!!gue jadi deg-degan.” Komentar Niki. “tenang...aja. kita kan satu team, kita pasti bisa.” Zhe menyemangati kedua sahabatnya. “oh...ya tadi Angga ngasih ucapan kegue loh, aneh tuh anak.” Sahut Oliv bingung. “mungkin dia udah sadar, kalo selama ini dia salah nilai elo” kata Zhe. “mungkin aja!!!!!”. “btw,tadi Dira, kok ngga keliatan ya  di sekolah?!!” tanya Niki sambil duduk di karpet bawah. Oliv menghampiri Niki, “Dira ngga masuk Nik, keterangannya sih ijin. Tapi ngga tau ijin kemana?. elo kangen ya?!” cerita Oliv sambil bersandar di punggung Niki. “nggak sih, tapi gue juga ngga tau,kok gue mikirin dia terus.” Jujur Niki terlihat sedih. Zhe yang daritadi sedang asyik chatting, menatap kearah Niki lalu menghampirinya. “elo jujur aja deh sama kita, elo suka kan sama Dira?!!” tanya Zhe tiba-tiba. Niki menghela napas sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan. “gue ngga salah kan suka sama dia. Abisnya dia baik banget sama gue,dia selalu ada pas waktu gue butuh dia.” Jujur Niki lagi. “jelas loe ngga salah kalo loe suka sama Dira. Itukan hak pribadi loe Nik, Dira baik keloe karna dia juga suka sama elo.” Komentar Oliv. “ngga mungkin dia juga suka sama gue?!” Nikipun ragu.
Jumat pagi sekitar pukul 09.00
Murid-murid yang akan mengikuti olimpiade matematika berkumpul di depan ruang guru termasuk Niki, Oliv dan Zhe. Zhe sedang asyik ngobrol bersama Andika, Oliv terus membolak-balik buku matematikanya. Dan, Niki terus memencet-mencet tombol dihapenya. “Dira mana sih?!katanya dia mau jadi suporter pas gue ikut Olimpiade di Surabaya, ini udah jam sembilan lewat, bentar lagi bisnya berangkat. Duh...gue kok jadi bego gini sih!!!!!ayo dong Dir, plis dateng ya” bingung Niki dalam hati.
Murid-murid yang lainpun masuk kedalam bis, termasuk Oliv yang daritadi sibuk sendiri menghapal rumus matematikanya. “semoga berhasil ya Zhe,” kata Andika. “thanks ya” balas Zhe sambil naik tangga bis. Niki berlari menghampiri Andika, “Dik,.... mh,,anu...itu... ngga jadi deh!!!” ucap Niki ragu-ragu. “kenapa Nik, elo kok bingung aja daritadi.” Tanya Andika. “iya...gini lho...duh,,ribet banget sih mau nanya. Mh...Di....ra kema...na ya udah 3 hari kok ngga masuk?” Nikipun memberanikan diri untuk bertanya. “o...,Dira nemenin nyokapnya berobat ke Malaysia, Nik. Emang kenapa??!” jawab Andika. “hah,,,ngga papa. Udah ya, ntar gue ketinggalan bis neh.” Balas Niki terburu-buru. Nikipun menaiki bis lalu duduk di samping Zhe,  “Nik, Dira ternyata ijin njenguk kakeknya yang sakit di Bandung. Tadi gue nanya ke Andika.” Kata Zhe. “hah??! Njenguk kakeknya yang sakit atau nemenin nyokapnya berobat ke Malaysia. Duh...yang bener yang mana sih??” kaget Niki dengan nada bingung. “Lho, elo tau darimana kalo Dira ijin mau nemenin nyokapnya berobat ke Malaysia??” tanya Zhe sambil mematikan mp3. “dari Andika.” Jawab Niki seadanya. “????????!” .
Sebelum bis berjalan, Angga dan teman-temannya yang lain memasang spanduk di depan gerbang sekolah yang bertuliskan ‘ Oliv selamat berjuang, semoga jadi juara’ . Anak-anak didalam bis tertuju pada Oliv, yang sedari tadi sibuk belajar matematika di kursi paling belakang “cieeee,,,, Oliv. Ada yang ngasih semangat tuh!!!” sindir Zhe dengan suara kerasnya. Anak-anak yang lainpun banyak yang menyindir Oliv. Olivpun tersadar, lalu menengok kearah jendela. “duh...ngapain sih, Angga masang-masang spanduk kayak gitu, gue kan malu” kesal Oliv dalam hati.
Sudah 2 hari Niki,Oliv dan Zhe juga teman-temannya yang lain mengikuti Olimpiade. Team Niki mendapat juara I terbaik dalam Olimpiade matematika. Mereka bangga, akan prestasi yang mereka ukir untuk sekolah mereka. Banyak teman-teman mereka memberi ucaapan selamat.
Senin pagi.
Niki,Oliv dan Zhe sudah asyik didepan lab Fisika. Mereka sedang asyik mengobrol, lalu tiba-tiba,Teman-teman mereka banyak yang memberi ucapan selamat kepada mereka. Merekapun tersenyum senang. “mh...gue ngga lagi diledek anak punk loh, ma anak-anak yang laen. Apalagi, si Angga dia makin baik kegue, malah dia minta diajarin matematika. Gue seneng aja.” Oliv menceritakan kegembiraannya. “kayaknya Angga suka sama elo deh,,!!!!” terka Niki sambil mengerdipkan mata. “hah...bisa aja loe, kayaknya ngga mungkin deh. O....ya Nik, Dira ngga masuk lagi. Katanya sih dia pergi ngga tau kemana.” Kata Oliv.
Tiba-tiba  Andika dan Beni datang menghampiri Niki cs. “Nik, Dira....Nik,Dira!!!!!” kata Andika sambil ngos-ngosan. “biar gue aja yang ngomong. Dira mau pindah sekolah ke Bandung, sekarang dia ada di bandara Nik.” Cerita Beni dengan lantang. “hah????!!!,” kaget Niki, iapun berlari menuju ke gerbang sekolah. “Nik, elo mau kemana?!” teriak Zhe panik. “gue mau nyusul Dira ke bandara!!!!!!” teriak Niki ngga kalah kencengnya. “waduh gawat tu anak....kita susul Niki aja. Ben, elo bawa motor ngga?!” Andika terlihat terburu-buru. “iya gue bawa....” jawab Beni singkat. “ok!!!!kalo gitu Oliv, ikut Beni. Biar gue bonceng Zhe.” Jelas Andika sambil mengambil kunci sepeda motornya.
Di bandara......
Niki keluar dari taxi lalu berlari menuju keruang tunggu di dekat pos satpam. Niki berhenti, mengelus-elus dadanya dan terus bernapas dengan napas ngos-ngosan. Seragam putih abu-abunyapun terlihat sudah acak-acakan. Niki melihat sekelilingnya mencari sesosok pujaan hatinya. “duh....Dira mana ya?!ato jangan –jangan udah berangkat?.” Panik Niki dalam hatinya. Niki memelototi seorang cowok yang sedang berjalan sambil membawa buku bacaan. “Diraaaaaaaa!!!!!!!!!!” teriak Niki. Dirapun menoleh kebelakang lalu menjatuhkan buku bacaannya. Niki menghampiri Dira, “mau pergi??!” tanya Niki tiba-tiba. Dira terus memandangi Niki yang terlihat kelelahan diwajahnya. “iya......” jawab singkat Dira. “kok, ngga pamit kegue?!” Niki bertanya lagi. “penting?!” ceplos Dira tiba-tiba. “hah??!!o...ya udah met jalan aja.” Kata Niki terlihat kesal. Nikipun membalikkan badannya, memperlihatkan kekesalannya. Tiba-tiba Dira memegang tangan Niki. Mereka berduapun terdiam. K. ., “sorry Nik, gue.....ngga bermaksud. Abisnya gue grogi, elo tiba-tiba dateng. Iya....gue mau pergi, gue pindah sekolah ke Bandung, gue ikut nyokap gue disana.  Selamet yah.... elo Oliv en Zhe udah menangin lomba Olimpiade matematika. Loe hebat deh.....” kata Dira. Nikipun membalikkan badan “ini semua berkat elo juga kok, elo kan udah ngajarin banyak hal kegue, elo juga ada disamping gue pas gue lagi butuh elo. Loe juga hebat kok.... o....ya semoga kakek loe cepet sembuh ya!!!!” balas Niki sambil menunduk sedih. “sembuh??kakek gue ngga sakit kok.” Kata Dira. “hah....kalo gitu pasti nyokap loe yang sakit ya kan?!” tanya Niki lagi. “nyokap gue baik-baik aja kok.” Jawab Dira. “hah?????terus siapa dong yang sakit. Gue jadi bingung gini.”.   “Beni sama Andika yang sakit. Mereka salah denger informasi.” Dira tersenyum kearah Niki. Niki tak berkomentar sepatah katapun. “Dir........” panggil Niki dengan nada lembut. “ya.....” balas Dira pelan.  “mh....elo ngga bakalan balik kesini lagi ya?, jujur aja, duh...gue jadi begok neh...gara-gara elo ngga masuk selama beberapa hari, hape loe juga ngga aktif, loe juga ngga dateng pas gue ikut olimpiade di surabaya. Loe juga ngga ngasih kabar kalo loe mau pindah sekolah. Gue juga ngga tau kenapa bisa gini?, loe sekarang pergi aja, gue ngerasa kehilangan banget,gue bingung aja kalo ngga ada loe. rasanya ada yang kurang dari hidup gue.” jujur Niki dengan mata berkaca-kaca. Dira menatap kearah Niki, yang mulai menangis. Dira terus memandanginya dan pelan-pelan dia mengusap airmata dipipi Niki. “sama Nik, gue juga ngerasain hal yang sama.” Dirapun mengakui hal yang sama. Merekapun saling memandang ,Niki tetap menangis lalu Dira pelan-pelan mencondongkan mulutnya kearah telinga Niki, “gue suka sama elo Nik, “ Dira mengungkapkan isi hatinya. Niki terdiam penuh kebingungan.
“Dira...met jalan ya. Kabarin kita kalo udah nyampek!!!!” sahut Oliv tiba-tiba, “iya, Dir, sering main-main kesini ya.” Zhe juga menyahut. Andika menghampiri Dira lalu memeluknya. “ok, bro sering-sering aja kabarin kita.” Katanya. “Dira....ma men. Met jalan ya, sob.” Beni menepuk bahu Dira. “thanks guys....gue ngga bakalan lupa ama kalian. Thanks yah” ucap Dira dengan sedih. Dira memegang bahu Niki dengan lembut, “bye...Nik.” ucapan terakhirnya untuk Niki. Dirapun pergi menuju ke pintu pesawat. Niki melambaikan tangan kearah Dira. Niki menatap Dira yang pergi meninggalkannya. Akhirnya, Mereka berlimapun meninggalkan bandara.
1 minggu kemudian.
“uh....akhirnya, gue bisa bernapas lega. Sekarang, anak-anak udah bisa nerima gue, Oliv en Zhe apa adanya. Mereka jadi lebih ramah ke kita. Tapi gue sempet kasihan juga ama Devi, dia dikeluarin dari sekolah, gara-gara ketauan make narkoba. en sekarang masuk pusat rehabilitasi. Tapi gue,Zhe en Oliv ngga pernah dendam ama Devi, bahkan kita sempet njenguk Devi disana A. Gue masih terus belajar untuk ngga sedih,kalau-kalau gue inget Dira’my hero’..hoo... Gue inget banget dia bisikkin sesuatu kegue, waktu terakhir ketemu pas di bandara, duh...kata-kata itu bikin gue senengJ en itu udah cukup mewakili perasaan Dira kegue. ’Oliv’sekarang dia jadi lebih rajin, hampir semua pelajaran dia dapet nilai bagus. Sempet juga sih Angga nembak Oliv, tapi cepet-cepet ditolak!!!hehe...C. sekarang giliran Beni pdkt ma Oliv, pas waktu mereka nyusul gue ke airpot, mereka boncengan,,,duh romantisnya. Tapi, pas di tengah jalan ban motor Beni kempes. Nah...mulai dari itu benih-benih cinta mereka bersemi...cieeeeJ. Andika ama Zhe ternyata ngga jadian, cause Andika bentar lagi lulus, jadi pisah deh...ho...L. tapi mereka tetep kompak pas waktu ngerjain mading bareng. dan sekarang kami bertiga dipercaya ama bu Fina, jadi pengurus Osis, gue seneng aja semua berakhir bahagiaJ.” Nikipun melamun saat sedang rapat Osis. “Nik...Niki!!!!Niki,,,,Nik!!!!!” teriak Zhe dengan kerasnya. Olivpun kesal melihat Niki senyum-senyum sendiri, iapun berdiri dari kursi lalu melempar bolpoin kearah kening Niki. “au.....apaan neh??” Nikipun tersadar sambil memelototi bolpoin diatas mejanya.  “Nik,rapat Osisnya udah dimulai. Loe ngelamun aja, diliatin tuh sama bu Fina.” Zhe terlihat marah. “hehe...sory deh” Niki mengakui kesalahannya.


^^seorang sahabat adl seorang yang menemanimu, sementara dunia meninggalkanmu
      Seorang sahabat adl seorang yang sibuk menghiburnu,ketika kau sedang tertimpa masalah     
      Seorang sahabat adl seorang yang membuat dirimu begitu berarti di hatinya^^